Sabtu, 14 September 2013
pesan dari film NARUTO
tersesat di jalan yang bernama kehidupan, sepi tak berujung karena pada dasarnya Manusia tak kan pernah bisa menang dari rasa kesepian” meskipun kita hidup dengan suka2, dan mati sesukamu... tapi ingat, lindungilah orang yang kau cinta, maka dengan itu kau bisa mati dengan tersenyum" karena Masa depanmu adalah kematian” dan melalui mata inilah, kita akan melihat masa depan" (Obito)
kalau dilukai, kita akan merasa benci.. sebaliknya, kalau melukai orang, kita akan dibenci dan tersiksa rasa bersalah, tapi karena mengetahui penderitaan seperti itulah, kita juga bisa berbuat baik pada orang lain. itulah manusia yang kadang lupa diri karena salah satu penyebabnya adalah Kebohongan
Bakteriologis Makanan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makanan merupakan salah satu bagian yang penting untuk kesehatan manusia. Sumber makanan yang dikonsumsi biasanya dari tumbuhan dan hewani. Meskipun bersumber dari sumber yang berbeda, tapi makanan yang harus dikonsumsi manusia itu setidaknya sesuai dengan kebutuhan yang perlukan oleh tubuh. Makanan yang dikonsumsi manusia biasanya mengandung nutrisi yang diperlukan antara lain, untuk pertumbuhan badan, memelihara jaringan tubuh yang rusak, dan untuk proses yang terjadi di dalam tubuh serta menghasilkan energi untuk dapat melakukan aktivitas.
Gorengan adalah salah satu makanan jajanan yang sampai sekarang ini masih memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi kecukupan gizi, yaitu memberikan sumbangan energi mencapai 64,3 %. Sedangkan untuk kecukupan protein mencapai 37,7 % (Febry, 2006). Hal ini di dukung oleh semakin banyaknya warung yang menjajakan gorengan yang menjadi faktor semakin tingginya konsumsi gorengan oleh masyarakat.
Gorengan juga menjadi salah satu makanan yang mudah terkontaminasi bakteri baik karena perilaku penjamah maupun penyimpanannya yang selalu disajikan secara terbuka. Hal tersebut memberikan andil yang besar terhadap kejadian penyakit akibat makanan, dimana kita ketahui bahwa makanan menjadi salah satu media penularan penyakit dan pada akhirnya menjadi penyakit bawaan makanan.
Besarnya dampak penyakit bawaan makanan terhadap kesehatan belum diketahui, karena hanya sebagian kecil dari kasus-kasus yang akhirnya dilaporkan ke pelayanan kesehatan dan jauh lebih sedikit lagi yang diselidiki. Namun, perlu diketahui bahwa kasus penyakit bawaan makanan dapat dipengaruh oleh beberapa faktor, diantaranya kebiasaan mengolah makanan secara tradisional, penyimpanan dan penyajian makanan yang tidak bersih dan tidak memenuhi persyaratan sanitasi.
Statistik mengenai penyakit bawaan makanan di negara-negara industri maju menunjukkan bahwa 60 % dari kasus keracunan makanan disebabkan oleh penanganan makanan yang tidak baik dan kontaminasi pada hidangan makanan di tempat penjualan makanan. Begitupun di negara berkembang, keadaannya sama atau bahkan lebih parah (Depkes RI, 2004).
Kasus-kasus yang dilaporkan di negara maju diperkirakan sekitar 5-10 %, sedangkan di banyak negara berkembang data kuantitatif yang dapat diandalkan pada umumnya sangat terbatas. Kejadian penyakit yang ditularkan melalui makanan di Indonesia cukup besar. Terlihat dari masih tingginya penyakit infeksi seperti tipus, kolera, desentri, tbc, dan sebagainya. Lebih dari 90 % kasus keracunan pangan disebabkan oleh kontaminasi mikroba (Agustina, 2009).
Badan Pusat Pengawasan Obat dan Makanan mencatat bahwa selama tahun 2004 di Indonesia terjadi 82 kasus keracunan makanan yang menyebabkan 6.500 korban sakit dan 29 orang meninggal dunia. Sebanyak 31% kasus keracunan itu disebabkan makanan yang berasal dari jasa boga dan buatan rumah tangga (Chandra, 2006).
Berdasarkan hal tersebut, dilakukan pemeriksaan jumlah koloni pada makanan dengan sampel makanan (gorengan) yang menjadi makanan paling banyak digemari masyarakat pada umumnya.
B. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui jumlah koloni yang terdapat pada sampel makanan (gorengan) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.
C. Prinsip Percobaan
1. Tangan dan meja tempat praktikum harus dalam keadaan steril.
2. Alat dan bahan harus dalam keadaan steril.
3. Tabung reaksi diplambir sebelum dan sesudah dimasukkan sampel untuk menjaga agar tabung tetap steril.
4. Pipet ukur harus selalu dibersihkan dengan menggunakan aquades sebelum digunakan.
5. Pipet ukur harus diplambir sebelum dan sesudah digunakan.
6. Cawan petri yang telah dihomogenkan tidak boleh digeser / dipindahkan sampai nutrient agar membeku.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Makanan
Makanan didefenisikan sebagai setiap benda padat atau cair yang apabila ditelan akan memberikan suplai energi kepada tubuh dan pertumbuhan atau berfungsinya tubuh. Untuk menjadi energi, makanan perlu dipecah-pecah menjadi senyawa-senyawa yang kecil melalui proses pencernaan (Depkes RI, 2004).
Berdasarkan defenisi WHO, makanan adalah semua substansi yang dibutuhkan oleh tubuh tidak termasuk air, obat-obatan, dan substansi-substansi lain yang digunakan untuk pengobatan. Air tidak termasuk makanan karena memang merupakan elemen vital bagi kehidupan manusia (Chandra, 2007).
Makanan jajanan merupakan makanan yang sangat digemari orang-orang. Makanan jajanan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Konsumsi makanan jajanan di masyarakat diperkirakan akan terus meningkat dikarenakan makin terbatasnya waktu anggota keluarga untuk mengolah makanan sendiri sebab kebanyakan ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah.
Keunggulan makanan jajanan adalah murah dan mudah didapat, serta cita rasanya yang enak dan cocok dengan selera kebanyakan masyarakat. Salah satu tempat penjualan makanan jajanan adalah sekolah, kampus, dan tempat-tempat umum lainnya. Tetapi masih banyak juga penjual makanan jajanan yang belum mengetahui cara penyajian dengan baik (Agustina, 2009).
Makanan dan minuman yang dipergunakan untuk masyarakat harus didasarkan pada standar dan atau persyaratan kesehatan pangan (makanan dan minuman) merupakan kebutuhan pokok manusia yang memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. (UU RI No. 36 Tahun 2009).
Sanitasi makanan adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk kebersihan dan keamanan makanan agar tidak menimbulkan bahaya keracunan dan food borne disease pada manusia. Tujuan sanitasi makanan sendiri antara lain (Chandra, 2007):
1. Menjamin keamanan dan kebersihan makanan.
2. Mencegah penularan penyakit.
3. Mencegah beredarnya produk makanan yang merugikan masyarakat.
4. Mengurangi tingkat kerusakan atau pembusukan makanan.
Oleh karena itu, produksi dan peredaran makanan di Indonesia telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 329/MenKes/XII/1976 Bab II pasal 2 peraturan ini menyebutkan bahwa makanan yang diproduksi dan diedarkan di wilayah Indonesia harus memenuhi syarat-syarat keselamatan, kesehatan, standar mutu, atau persyaratan yang ditetapkan oleh menteri untuk tiap jenis makanan (Susanna, 2006).
Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Chandra (2007), ada empat fungsi pokok makanan bagi kehidupan manusia sebagai berikut:
1. Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/perkembangan serta mengganti jaringan tubuh yang rusak.
2. Memperoleh energi guna melakukan aktivitas sehari-hari.
3. Mengatur metabolisme dan berbagai keseimbangan air, mineral, serta cairan tubuh yang lain.
4. Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai macam penyakit.
Kasus penyakit bawaan makanan (food borne disease) dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut, antara lain kebiasaan mengolah makanan secara tradisional, penyimpan dan penyajian yang tidak bersih, dan tidak memenuhi persyaratan sanitasi (Chandra, 2006). Oleh karena itu, makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya (Prabu, 2008) :
1. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki.
2. Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya.
3. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari pengaruh enzym, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.
4. Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang dihantarkan oleh makanan (food borne illness).
B. Tinjauan Umum Tentang Bakteriologis pada Makanan
Bakteri yang tumbuh di dalam makanan, mengubah mkanan tersebut menjadi zat-zat organik yang berkurang energinya. Didalam pengubahan itu bakteri memperoleh energi yang dibutuhkannya (Dwidjoseputro, 2005). Hasil metabolisme spesies-spesies tertentu yang digemari oleh manusia misalnya alkohol sebagai hasil metabolisme Saccharomyces cerevisiae, cuka sebagai fermentasi Acetobacter sp. Akan tetapi, ada beberapa spesies yang hasil metabolismenya merupakan eksotoksin yang berbahaya bagi kesehatahn manusia. Jika toksin itu masuk dalam alat pencernaan manusia, dapat menimbulkan gejala- gejala keracunan seperti perut sakit perut sakit, muntah-muntah, dan diare.
Beberapa bakteri koloni yang terdapat pada makanan yang dapat menyebabkan penyakit, yaitu (SNI 7388: 2009):
1. Vibrio Parahemolitik
Vibrio parahemolicus adalah bakteri halofilik yang merupakan bakteri bentuk batang bengkok, garam negatif dan bergerak karena ada flagel pada satu kutubnya. Bakteri ini tidak membentuk spora, bersifat aerob atau fakultatif anaerob tidak dijumpai pada enterotiksin. Bakteri ini menetap di lingkungan lautan yang tenang dan dikenal menyebabkan gastroerileritis yang berhubungan dengan makanan.
2. Staphylococcus
Keracunan staphylococcus merupakan gejala intoksikasi yang paling banyak dilaporkan di Amerika Serikat, dimana setiap tahunnya meliputi 20 % sampai 50 % dari seluruh keracunan yang disebabkan oleh makanan. Gejala keracunan ini disebabkan oleh tertelannya suatu toksin yang disebut enterotoksin yang mungkin terdapat di dalam makanan dan diproduksi oleh spesies dan strain tertentu dari bakteri staphylococcus. Toksin ini disebut enterotoksin karena dapat menyebabkan gastroentritis atau inflamasi pada saluran usus. Bakteri yang dapat menyebabkan keracunan staphylococcus atau strain tertentu dan Staphylococcus aerus.
Pembentukan enterotoksin oleh S. Aereus dalam makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya terposisi subtrat suhu, waktu dan pH, adanya garam NaCl dan Nitrit, antibiotik dan sebagainya.
Enterotoksin pada umumnya diproduksi oleh Staphylococcus aereus dalam makanan basah yang sudah pernah dimasak atau dipanaskan. Jenis makanan yang dapat ditumbuhi S. Aereus misalnya daging dan ikan yang telah dimasak atau diolah, hasil olahan telur, makaroni, susu, keju dan hasil olahan sayur yang mengandung daging atau kaldu. Meskipun telah dmasak, makanan-makanan tersebut masih mungkin mengalami kontaminasi. Misalnya melalui tangan/ lingkungan selama penyimpanan sebelum dikonsumsi. Keracunan staphylococcus hampir selalu berasal dari makanan yang telah dimasak, karena pada makanan yang telah dimasak jumlah mikroba lain yang dapat menghambat pertumbuhannya sudah sangat kurang.
3. Salmonella
Salmonella terdapat pada makanan dalam jumlah tinggi, tetapi tidak selalu menimbulkan perubahan dalam hal warna, bau, maupun rasa dari makanan tersebut. Semakin tinggi jumlah salmonella dalam makanan, semakin besar timbulnya gejala infeksi pada orang yang memakan makanan tersebut dan semakin cepat waku inkubasi sampai timbulnya gejala infeksi.
Makanan yang sering terkontaminasi oleh salmonella yaitu telur dan hasil olahannya, ikan dan hasil olahannya, daging ayam, daging sapi serta susu dan hasil olahannya, es krim dan keju. Contoh kasus, hampir setiap penyakit infeksi dari salmonella disebabkan karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar. Bahan makanan yang sudah tercemar tersebut seperti kue yang mengandung susu, daging cincang, sosis, telur dan daging panggang. Gejala awal nyeri kepala, muntah, gangguan pada perut waktu baung air besar, suhu tubuh tinggi disertai batuk kering.
4. E. Coli Pathogen
E. Coli merupakan bakteri berbentuk batang pendek (kokobasil). Gram negative, ukuran 0,4 µm – 0,7 µm x 1,4 µm, dan beberapa strain mempunyai kapsul. Terdapat strain E. Coli yang patogen dan non patogen. E. Coli patogen banyak ditemukan di dalam usus besar manusia sebagai flora normal dan berperan dalam pencernaan pangan dengan menghasilkan vitamin K dari bahan yang belum dicerna dalam usus besar.
5. Clostridium Perfringes
Clostridium pefringens adalah bakteri patogen invasif berbentuk batang, nonmotil, bersifat gram positif dan anaerob, serta mempunyai spora yang relatif stabil terhadap suhu panas. Sel vegetatifnya dapat rusak pada suhu 600C. Sel sebanyak 105 koloni/g memungkinkan terjadinya keracunan makanan. Ciri umum dari keracunan Clostridium pefringens adalah gejala kejang perut dan diare. Pada beberapa kasus, penyebab Clostridium pefringens disebabkan karena kesalahan saat memasak. Sejumlah kecil sel vegetatif tetap ada setelah proses pemasakan dan memperbanyak diri selama proses penyimpanan, akibatnya makanan terkontaminasi.
Clostridium Perfringes biasanya terdapat dalam daging mentah dan tinja hewan, bakteri ini penyebab utama keracunan makanan. Penyakit ini timbul akibat mengkonsumsi makanan yang tercemari organisme tersebut dan disimpan dalam kondisi suhu yang menunjang berkembang biaknya spora dan sel vegetatif yang menghasilkan enterotoksin pada waktu membentuk spora dalam rongga usus. Gejala keracunan timbul 8- 24 jam setelah makanan tercemar, gejala utamanya adalah sakit perut dan diare.
C. Tinjauan Umum Tentang Food Borned Disease
Food Borne Disease adalah suatu gejala penyakit yang timbul akibat makan bahan makanan yang mengandung mikroorganisme atau toxinnya termasuk tumbuh-tumbuhan, bahan kimia, dan binatang (Anwar, 2005).
Penyakit bawaan makanan adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh makanan yang tidak sehat, baik berupa penyakit infeksi, maupun akibat bahan kimia berbahaya terdapat dalam makanan yang dengan sengaja ditambahkan atau tidak. Para ilmuan pada umumnya sepakat bahwa penyebab utama penyakit bawaan makanan adalah pencemaran kuman – kuman yang berbahaya terhadap kesehatan. Penyakit-penyakit karena makanan dapat digolongkan dalam tiga kelompok besar, yakni :
1. Penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh perpindahan kuman penyakit.
2. Keracunan makanan (food poisoning) dan infeksi karena makanan (food infection) yang disebabkan oleh bakteri.
3. Keracunan makanan yang penyebabnya bukan mikroorganisme.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya food borne disease yang disebabkan oleh bakteri adalah sebagai berikut:
1. Kontaminasi makanan oleh bakteri yaitu menyebabkan food borne disease terjadi melalui:
a. Kontaminasi silang (cross contamination), yaitu pencemaran yang terjadi secara langsung sebagai akibat ketidaktahuan dalam pengolahan makanan, contohnya bahan mentah bercampur dengan makanan matang.
b. Kontaminasi peralatan yang tidak bersih.
c. Kontaminasi melalui serangga, binatang pengerat dan hewan lain.
d. Kontaminasi oleh penjamah makanan yang terinfeksi memenuhi syarat 57,39% yang terdapat peningkatan sebesar 3,59%.
e. Metode pemeliharaan makanan yang tidak adekuat.
2. Bakteri yang dapat bertahan hidup dalam makanan karena proses pematangan atau pemanasan yang tidak adekuat dapat menyebabkan food borne disease. Beberapa bakteri dapat bertahan hidup dalam makanan karena mempunyai spora yang melindungi bakteri dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, contoh pemanasan. Pembentukan spora oleh bakteri meningkatkan ketahanan bakteri terhadap panas, bahan kimia dan sel fagosit jika bakteri tersebut masuk kedalam tubuh.
D. Tinjauan Umum Tentang Metode Standard Plate Count (SPC)
Standard Plate Count (SPC) atau Angka Lempeng Total (ALT) menunjukkan jumlah mikroba dalam suatu produk. Di beberapa negara, SPC dinyatakan sebagai Aerobic Plate Count (APC) atau Aerobic Microbial Count (AMC). SPC secara umum tidak terkait dengan bahaya keamanan makanan, namun bermanfaat untuk menunjukkan kualitas, masa simpan, kontaminasi, dan status hygiene/sanitasi selama proses produksi. Media plating (sumber energi) yang digunakan dalam pengujian SPC dapat mempengaruhi jumlah dan jenis bakteri yang diisolasi karena perbedaan persyaratan nutrisi dan garam pada tiap mikroba (SNI 7388:2009). Adapun rumus perhitungan SPC adalah sebagai berikut (Ane, 2013):
(10-3 – kontrol) x 1000 + (10-4 – kontrol) x 10000
Jumlah Kuman =
2
= . . . . . . koloni/gram.
Cara perhitungan koloni pada metode cawan ini adalah dengan menggunakan Standard Plate Count (SPC), caranya adalah sebagai berikut (Ericka, 2011).
1. Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama (satuan) dan angka kedua (desimal). Jika angka yang ketiga sama dengan atau lebih besar dari lima, harus dibulatkan satu angka lebih tiinggi pada angka kedua.
2. Jika pada semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni mikroba pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh karena itu jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang diukur/dihitung. Selanjutnya hasil yang kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
3. Jika pada semua pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada medium, berarti pengeceran yang dilakukan terlalu rendah. Oleh karena itu jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan kemudian dikalikan dengan faktor pengencernya, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
4. Jika digunakan dua cawan petri per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, tidak boleh diambil salah satu. Oleh karena itu harus dipilih tingkat pengenceran yang menghasilkan koloni diantara 30-300.
BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Kantong plastik steril 1 buah
b. Tabung reaksi 5 buah
c. Rak tabung reaksi 1 buah
d. Cawan petri 3 buah
e. Blender 1 buah
f. Pipet ukur 2 buah
g. Bulp 1 buah
h. Pembakar bunsen 1 buah
i. Colony Counter 1 buah
j. Gelas beaker 1 buah
k. Inkubator 1 unit
l. Timbangan analitik 1 unit
m. Vortex mixer 1 unit
n. Labu erlenmeyer 1 buah
o. Spatula steril 1 buah
p. Pemantik api 1 buah
q. Gelas ukur 1 buah
2. Bahan
a. Sampel makanan gorengan 10 gram
b. Larutan NaCl 9 ml/tabung
c. Larutan pepton 90 ml
d. Nutrient agar secukupnya
e. Aquades secukupnya
f. Kertas Label secukupnya
g. Kapas secukupnya
h. Alkohol secukupnya
B. Waktu dan Tempat Pengembilan Sampel
1. Waktu : Rabu, 13 Maret pukul 10.00 WITA.
2. Tempat : Kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.
3. Prosedur Kerja
1. Pengambilan Sampel
a. Disiapkan plastik steril untuk menyimpan sampel makanan.
b. Tangan disterilkan dengan alkohol.
c. Sampel makanan diambil dengan menggunakan spatula steril.
d. Sampel makanan dimasukkan ke dalam plastik steril.
e. Plastik wadah sampel ditutup rapat.
2. Pembuatan Kontrol
a. Disiapkan 1 buah cawan petri dan di beri label (kontrol).
b. NaCl steril dipipet sebanyak 1 ml kedalam cawan petri dan di tambahkan nutrient agar. Kemudian di homogenkan dengan membentuk angka 8 di atas meja sebanyak 12 kali.
c. Cawan petri (kontrol) yang telah dihomogenkan, didiamkan sampai membeku.
d. Setelah membeku, dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu 34oC dengan posisi terbalik selama 1 x 24 jam.
3. Pemeriksaan Sampel Makanan
a. Tangan dan meja tempat praktikum disterilkan dengan menggunakan alkohol.
b. Spatula yang akan digunakan untuk mengambil sampel makanan harus disterilkan dengan menggunakan alkohol.
c. Makanan jajanan gorengan dicampur menjadi satu bersama dengan saus sambalnya sampai merata.
d. Sampel makanan dihancurkan menggunakan spatula dan ditimbang hingga mencapai 10 gram.
e. Sampel makanan 10 gram diblender dengan larutan pepton sebanyak 90 ml hingga halus, kemudian dimasukkan ke dalam gelas beaker.
f. Disiapkan 4 buah tabung reaksi yang masing-masing berisi NaCl 9 ml. keempat tabung tersebut diberi label 10-1, 10-2 , 10-3 , 10-4 secara berturut-turut.
g. Disiapkan 1 pipet ukur steril yang telah dilengkapi bulp.
h. Pipet ukur dan mulut tabung reaksi di plambir sebelum dan sesudah digunakan untuk menghindari terjadinya kontaminasi bakteri baik dari udara, peralatan praktikum, maupun dari praktikan. Khusus untuk pipet ukur, harus selalu dibersihkan dengan aquades setiap kali digunakan agar tidak ada sisa sampel yang tertinggal.
i. Dimasukkan 1 ml sampel makanan kedalam tabung pengenceran pertama (10-1) dengan menggunakan pipet ukur, lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit.
j. Dari tabung pengenceran pertama (10-1), diambil 1 ml sampel dan dimasukkan kedalam tabung pengenceran kedua (10-2), lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit.
k. Dari tabung pengenceran kedua (10-2), diambil lagi sebanyak 1 ml sampel dan dimasukkan kedalam tabung pengencer ketiga (10-3), lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit.
l. Diambil sebanyak 1 ml sampel dari tabung pengenceran ketiga (10-3) dan dimasukkan kedalam tabung pengenceran terakhir (10-4), lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit.
m. Dimasukkan 1 ml sampel dari tabung pengenceran ketiga (10-3) dan keempat (10-4) berturut-turut kedalam cawan petri yang berlabel 10-3 dan 10-4 , lalu diberi nutrient agar hingga menutupi seluruh permukaan cawan, kemudian masing-masing sampel dihomogenkan dengan cara diputar membentuk angka 8 sebanyak 12 kali. Sampel didiamkan sampai membeku selama ± 10 menit.
n. Kedua cawan petri (10-3 dan 10-4) yang telah membeku, dimasukkan kedalam inkubator selama 1 x 24 jam pada suhu 34˚C.
o. Setelah 1 x 24 jam, cawan petri dikeluarkan dari dalam inkubator. Bakteri yang tampak pada cawan petri kemudian dihitung dengan menggunakan colony counter.
4. Perhitungan Jumlah Bakteri
Sampel yang telah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35°C, dikeluarkan dari inkubator. Selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah koloni bakeri (berupa bercak atau titik-titik bulat berwarna putih) yang terdapat dalam cawan petri dengan alat colony counter. Untuk jumlah kuman masukkan kedalam rumus:
(10-3 – kontrol) x 1000 + (10-4 – kontrol) x 10000
Jumlah Kuman =
2
= . . . . . . koloni/gram.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di Laboratorium Terpadu FKM Universitas Hasanuddin, maka diperoleh hasil pemeriksaan bakteriologis pada makanan gorengan di FKG Universitas Hasanuddin sebagai berikut:
Tabel 1
Hasil Pengamatan Jumlah Koloni Makanan (Gorengan)
Di Kantin Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Hasanuddin
No. Pengenceran Jumlah Koloni
1. 10-3 307 koloni/gram
2. 10-4 126 koloni/gram
3. Kontrol 37 koloni/gram
Sumber : Data primer, 2013
Berdasarkan perhitungan Standard Plate Count (SPC), maka didapatkan hasil sebagai berikut:
(10-3 – kontrol) x 1000 + (10-4 – kontrol) x 10000
Jumlah Kuman =
2
(307 – 37) x 1000 + (126 - 37) x 10000
=
2
270000 + 890000
=
2
1.116.000
= = 580.000 koloni/gram
2
B. Pembahasan
Berdasarkan tabel hasil pengamatan jumlah koloni makanan (gorengan) di kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, maka didapatkan hasil pada pengenceran ketiga (10-3) dan keempat (10-4) berturut-turut adalah 307 koloni/gram dan 126 koloni/gram. Didapatnya hasil yang berbeda pada kedua media cawan dengan pengenceran, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengenceran yang dilakukan, semakin sedikit mikroba yang tumbuh dalam media. Dapat dilihat bahwa pada pengenceran ketiga (10-3) yaitu terdapat 307 koloni, lebih banyak jumlahnya dibandingkan hasil yang didapatkan pada pengenceran keempat (10-4) yaitu 126 koloni/gram.
Pertumbuhan bakteri pada medium agar pada umumnya berbentuk koloni, berupa lendir berwarna putih dan mengkilap. Pada percobaan ini, untuk membiakkan atau menumbuhkan bakteri maka dilakukan pengenceran sampai 4 (empat) kali yaitu, suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain sampai pada pengenceran keempat. Metode ini umumnya dilakukan pada mikroba yang dapat membentuk koloni yang mudah terpisah pada media padat seperti kebanyakan bakteri, khamir, jamur, dan alga uniseluler (Hadioetomo, 1985 dalam Sudarsono, 2008).
Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi jumlah mikroba pada media cawan atau dengan kata lain untuk memperkecil jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan, sehingga mempermudah dalam perhitungan jumlah mikroba. Tujuan dari pengenceran ini sesuai pernyataan Sudarsono (2008), yaitu untuk menurunkan jumlah bakteri sehingga pada pengenceran terakhir akan didapatkan jumlah koloni yang lebih sedikit dan mudah diketahui jumlahnya.
Disamping itu, penggunaan media agar bukan hanya difungsikan sebagai media pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba, tetapi juga untuk tujuan-tujuan lain, misalnya untuk isolasi, seleksi, evaluasi, dan deferensiasi biakan yang didapatkan. Artinya, penggunaan beberapa jenis zat tertentu yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba, banyak dilakukan dan dipergunakan. Sehingga tiap-tiap media mempunyai sifat (spesifikasi) tersendiri sesuai dengan maksudnya.
Spesifikasi media yang dimaksud adalah pada percobaan yang dilakukan, 2 (dua) cawan petri digunakan sebagai biakan mikroba dari hasil pengenceran dan 1 (satu) untuk medium kontrol yang berfungsi untuk mengetahui kondisi awal lingkungan pemeriksaan dengan memasukkan 1 ml NaCl ke dalam cawan petri dan dituangkan nutrient agar, lalu dihomogenkan dengan cara diputar membentuk angka 8 sebanyak 12 kali pada medium datar seperti pada pembuatan medium sampel.
Selain itu, dilakukan pula beberapa perlakuan, seperti plambir sebelum dan setelah alat digunakan ataupun selalu dekat dengan pembakar bunsen pada saat bekerja dengan tujuan menghindari kontaminasi bakteri, selain dari bakteri yang dibiakkan. Kemudian larutan dihomogenkan dengan vortex mixer agar pada larutan tidak terjadi dua fase dan larutan tercampur dengan rata. Pada percobaan dilakukan juga penimbangan bahan makanan dengan tujuan agar sampel yang akan periksa atau amati, sesuai takaran yang telah ditentukan.
Selanjutnya, cawan petri dimasukkan ke dalam inkubator selama 1 x 24 jam dengan keadaan terbalik. Waktu ini adalah masa yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri yang dikenal sebagai waktu generasi. Suhu yang digunakan selama inkubasi yaitu 34˚C dan bakteri yang dapat tumbuh pada suhu ini adalah bakteri jenis mesofil dengan suhu minimum 10-20 ˚C, optimum 20-40 ˚C, dan maksimum 40-45 ˚C.
Untuk menghitung jumlah koloni, digunakan alat colony counter yang memudahkan perhitungan koloni bakteri yang sulit diamati dengan penglihatan langsung. Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah koloni pada makanan (gorengan) antara lain dari cara pengolahan dan penyajian termasuk di dalamnya hygiene dan sanitasi makanan, baik penjamah maupun tempat kerja.
Adapun hasil perhitungan untuk kontrol didapatkan hasil sebanyak 37 koloni/gram. Hal ini menandakan bahwa kondisi awal lingkungan adalah mengandung mikroba sebanyak 37 koloni/gramnya. Meskipun pada dasarnya hasil pemeriksaan untuk kontrol idealnya 0 (nol) koloni/gram, akan tetapi nilai ini boleh jadi karena ada kontaminasi dari praktikan ataupun lingkungan dilakukannya pemeriksaan, termasuk alat yang digunakan pada saat praktikum. Dengan catatan bahwa nilai dari kontrol harus lebih kecil dari nilai pada pemeriksaan media biakan mikroba, seperti yang didapatkan pada hasil perhitungan menggunakan colony counter yaitu pada pengenceran ketiga (10-3) dan keempat (10-4) berturut-turut adalah 307 koloni/gram dan 126 koloni/gram, lebih tinggi dari nilai hasil pemeriksaan untuk kontrol yaitu 37 koloni/gram.
Dalam proses pemeriksaan bakteriologis makanan, digunakan metode Standard Plate Count (SPC) dengan prosedur fermentasi tabung ganda. Pada prosedur percobaan ini, dilakukan upaya penumbuhan mikroba pada kultur atau biakan buatan di luar habitat alami. Dalam hal ini, biakan buatan yang digunakan adalah nutrient agar. Adapun nutrient agar berfungsi sebagai media pertumbuhan yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang sangat dibutuhkan oleh bakteri, seperti agar sebagai sumber energi, aquades, pepton untuk pH, dan sebagainya,
Hasil perhitungan dengan metode Standard Plate Count (SPC), diperoleh jumlah koloni pada gorengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin sebanyak 580.000 koloni/gram, sedangkan untuk standar batas maksimum cemaran mikroba oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hanya 1 x 104 koloni/gram. Hal Ini berarti bahwa jumlah koloni pada gorengan melampaui batas maksimum cemaran mikroba yang telah ditetapkan pada pangan. Banyaknya bakteri dalam makanan (gorengan), menurunkan kualitas kandungannya karena bakteri yang tumbuh dalam makanan akan mengubah makanan ini menjadi zat-zat organik yang kemudian digunakan oleh bakteri untuk memenuhi kebutuhan energinya (Dwidjoseputro, 2005), sehingga makanan (gorengan) tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat, dalam hal ini dilihat dari segi bakteriologis.
Keberadaan mikroba (bakteri) pada makanan (gorengan) di kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, selain berasal dari lingkungan pemeriksaan sampel, dapat pula dipengaruhi oleh proses pengolahan yang tidak hygienis, terlebih makanan (gorengan) disajikan secara terbuka, sehingga kontaminasi oleh mikroba lebih besar, baik itu dari penjamah, pembeli ataupun kontaminasi langsung dari lingkungan kantin tersebut. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan kontaminasi mikroba pada makanan (gorengan) berasal dari ketidaktelitian praktikan pada saat melakukan percobaan, mulai dari proses pengambilan sampel yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dan terlalu banyak berbicara pada saat melakukan percobaan.
Akibat kontaminasi bakteri terhadap sampel gorengan seperti E. coli, Salmonella sp. dan beberapa bakteri patogen lainnya, akan mempengaruhi kesehatan meskipun pada dasarnya konsumsi satu atau dua kali masih berada pada tingkat yang bisa ditoleransi. Akan tetapi, keterpaparan yang lebih jauh bisa akan menyebabkan terjadinya food borne disease, misalnya diare ataupun keracunan makanan. Oleh beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan diare, ada jenis bakteri yang bahkan sampai menyebabkan diare berdarah, yaitu Clostridium pefringens (SNI 7388:2009).
Oleh karena itu, higiene dan sanitasi makanan sangat penting untuk diperhatikan, terlebih lagi bagi penjamah makanan dalam mengolah dan menyajikan makanan agar penjamah dan konsumen senantiasa terjaga kesehatannya.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa jumlah koloni bakteri yang terkandung pada makanan (gorengan) di Kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin adalah sebanyak 580.000 koloni/gram dan telah melampaui batas yang diperkenankan oleh SK DIRJEN Pemantauan Obat Dan Makanan (POM) tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dalam Makanan Nomor HK.00.06.1.52.4011 Tanggal 28 Oktober 2009 yaitu 1 x 104 koloni/gram.
B. Saran
1. Dalam melakukan percobaan, untuk mendapatkan hasil yang akurat maka dibutuhkan ketelitian dan penguasaan materi oleh praktikan.
2. Kepada mahasiswa, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait pemeriksaan bakteriologis pada makanan, khususnya pada gorengan sebagai salah satu makanan jajanan yang digemari anak sekolahan termasuk mahasiswa.
3. Kepada tim pengajar, sebelum praktikum dimulai, disarankan untuk memberikan pengantar atau dasar teori tentang yang akan dipraktikkan.
4. Kepada masyarakat, diharapkan lebih berhati-hati dalam memilih makanan jajanan untuk menghindari kemungkinan terburuk jika terjadi kontaminasi bakteri pada makanan.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makanan merupakan salah satu bagian yang penting untuk kesehatan manusia. Sumber makanan yang dikonsumsi biasanya dari tumbuhan dan hewani. Meskipun bersumber dari sumber yang berbeda, tapi makanan yang harus dikonsumsi manusia itu setidaknya sesuai dengan kebutuhan yang perlukan oleh tubuh. Makanan yang dikonsumsi manusia biasanya mengandung nutrisi yang diperlukan antara lain, untuk pertumbuhan badan, memelihara jaringan tubuh yang rusak, dan untuk proses yang terjadi di dalam tubuh serta menghasilkan energi untuk dapat melakukan aktivitas.
Gorengan adalah salah satu makanan jajanan yang sampai sekarang ini masih memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi kecukupan gizi, yaitu memberikan sumbangan energi mencapai 64,3 %. Sedangkan untuk kecukupan protein mencapai 37,7 % (Febry, 2006). Hal ini di dukung oleh semakin banyaknya warung yang menjajakan gorengan yang menjadi faktor semakin tingginya konsumsi gorengan oleh masyarakat.
Gorengan juga menjadi salah satu makanan yang mudah terkontaminasi bakteri baik karena perilaku penjamah maupun penyimpanannya yang selalu disajikan secara terbuka. Hal tersebut memberikan andil yang besar terhadap kejadian penyakit akibat makanan, dimana kita ketahui bahwa makanan menjadi salah satu media penularan penyakit dan pada akhirnya menjadi penyakit bawaan makanan.
Besarnya dampak penyakit bawaan makanan terhadap kesehatan belum diketahui, karena hanya sebagian kecil dari kasus-kasus yang akhirnya dilaporkan ke pelayanan kesehatan dan jauh lebih sedikit lagi yang diselidiki. Namun, perlu diketahui bahwa kasus penyakit bawaan makanan dapat dipengaruh oleh beberapa faktor, diantaranya kebiasaan mengolah makanan secara tradisional, penyimpanan dan penyajian makanan yang tidak bersih dan tidak memenuhi persyaratan sanitasi.
Statistik mengenai penyakit bawaan makanan di negara-negara industri maju menunjukkan bahwa 60 % dari kasus keracunan makanan disebabkan oleh penanganan makanan yang tidak baik dan kontaminasi pada hidangan makanan di tempat penjualan makanan. Begitupun di negara berkembang, keadaannya sama atau bahkan lebih parah (Depkes RI, 2004).
Kasus-kasus yang dilaporkan di negara maju diperkirakan sekitar 5-10 %, sedangkan di banyak negara berkembang data kuantitatif yang dapat diandalkan pada umumnya sangat terbatas. Kejadian penyakit yang ditularkan melalui makanan di Indonesia cukup besar. Terlihat dari masih tingginya penyakit infeksi seperti tipus, kolera, desentri, tbc, dan sebagainya. Lebih dari 90 % kasus keracunan pangan disebabkan oleh kontaminasi mikroba (Agustina, 2009).
Badan Pusat Pengawasan Obat dan Makanan mencatat bahwa selama tahun 2004 di Indonesia terjadi 82 kasus keracunan makanan yang menyebabkan 6.500 korban sakit dan 29 orang meninggal dunia. Sebanyak 31% kasus keracunan itu disebabkan makanan yang berasal dari jasa boga dan buatan rumah tangga (Chandra, 2006).
Berdasarkan hal tersebut, dilakukan pemeriksaan jumlah koloni pada makanan dengan sampel makanan (gorengan) yang menjadi makanan paling banyak digemari masyarakat pada umumnya.
B. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui jumlah koloni yang terdapat pada sampel makanan (gorengan) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.
C. Prinsip Percobaan
1. Tangan dan meja tempat praktikum harus dalam keadaan steril.
2. Alat dan bahan harus dalam keadaan steril.
3. Tabung reaksi diplambir sebelum dan sesudah dimasukkan sampel untuk menjaga agar tabung tetap steril.
4. Pipet ukur harus selalu dibersihkan dengan menggunakan aquades sebelum digunakan.
5. Pipet ukur harus diplambir sebelum dan sesudah digunakan.
6. Cawan petri yang telah dihomogenkan tidak boleh digeser / dipindahkan sampai nutrient agar membeku.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Makanan
Makanan didefenisikan sebagai setiap benda padat atau cair yang apabila ditelan akan memberikan suplai energi kepada tubuh dan pertumbuhan atau berfungsinya tubuh. Untuk menjadi energi, makanan perlu dipecah-pecah menjadi senyawa-senyawa yang kecil melalui proses pencernaan (Depkes RI, 2004).
Berdasarkan defenisi WHO, makanan adalah semua substansi yang dibutuhkan oleh tubuh tidak termasuk air, obat-obatan, dan substansi-substansi lain yang digunakan untuk pengobatan. Air tidak termasuk makanan karena memang merupakan elemen vital bagi kehidupan manusia (Chandra, 2007).
Makanan jajanan merupakan makanan yang sangat digemari orang-orang. Makanan jajanan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Konsumsi makanan jajanan di masyarakat diperkirakan akan terus meningkat dikarenakan makin terbatasnya waktu anggota keluarga untuk mengolah makanan sendiri sebab kebanyakan ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah.
Keunggulan makanan jajanan adalah murah dan mudah didapat, serta cita rasanya yang enak dan cocok dengan selera kebanyakan masyarakat. Salah satu tempat penjualan makanan jajanan adalah sekolah, kampus, dan tempat-tempat umum lainnya. Tetapi masih banyak juga penjual makanan jajanan yang belum mengetahui cara penyajian dengan baik (Agustina, 2009).
Makanan dan minuman yang dipergunakan untuk masyarakat harus didasarkan pada standar dan atau persyaratan kesehatan pangan (makanan dan minuman) merupakan kebutuhan pokok manusia yang memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. (UU RI No. 36 Tahun 2009).
Sanitasi makanan adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk kebersihan dan keamanan makanan agar tidak menimbulkan bahaya keracunan dan food borne disease pada manusia. Tujuan sanitasi makanan sendiri antara lain (Chandra, 2007):
1. Menjamin keamanan dan kebersihan makanan.
2. Mencegah penularan penyakit.
3. Mencegah beredarnya produk makanan yang merugikan masyarakat.
4. Mengurangi tingkat kerusakan atau pembusukan makanan.
Oleh karena itu, produksi dan peredaran makanan di Indonesia telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 329/MenKes/XII/1976 Bab II pasal 2 peraturan ini menyebutkan bahwa makanan yang diproduksi dan diedarkan di wilayah Indonesia harus memenuhi syarat-syarat keselamatan, kesehatan, standar mutu, atau persyaratan yang ditetapkan oleh menteri untuk tiap jenis makanan (Susanna, 2006).
Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Chandra (2007), ada empat fungsi pokok makanan bagi kehidupan manusia sebagai berikut:
1. Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/perkembangan serta mengganti jaringan tubuh yang rusak.
2. Memperoleh energi guna melakukan aktivitas sehari-hari.
3. Mengatur metabolisme dan berbagai keseimbangan air, mineral, serta cairan tubuh yang lain.
4. Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai macam penyakit.
Kasus penyakit bawaan makanan (food borne disease) dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut, antara lain kebiasaan mengolah makanan secara tradisional, penyimpan dan penyajian yang tidak bersih, dan tidak memenuhi persyaratan sanitasi (Chandra, 2006). Oleh karena itu, makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya (Prabu, 2008) :
1. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki.
2. Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya.
3. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari pengaruh enzym, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.
4. Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang dihantarkan oleh makanan (food borne illness).
B. Tinjauan Umum Tentang Bakteriologis pada Makanan
Bakteri yang tumbuh di dalam makanan, mengubah mkanan tersebut menjadi zat-zat organik yang berkurang energinya. Didalam pengubahan itu bakteri memperoleh energi yang dibutuhkannya (Dwidjoseputro, 2005). Hasil metabolisme spesies-spesies tertentu yang digemari oleh manusia misalnya alkohol sebagai hasil metabolisme Saccharomyces cerevisiae, cuka sebagai fermentasi Acetobacter sp. Akan tetapi, ada beberapa spesies yang hasil metabolismenya merupakan eksotoksin yang berbahaya bagi kesehatahn manusia. Jika toksin itu masuk dalam alat pencernaan manusia, dapat menimbulkan gejala- gejala keracunan seperti perut sakit perut sakit, muntah-muntah, dan diare.
Beberapa bakteri koloni yang terdapat pada makanan yang dapat menyebabkan penyakit, yaitu (SNI 7388: 2009):
1. Vibrio Parahemolitik
Vibrio parahemolicus adalah bakteri halofilik yang merupakan bakteri bentuk batang bengkok, garam negatif dan bergerak karena ada flagel pada satu kutubnya. Bakteri ini tidak membentuk spora, bersifat aerob atau fakultatif anaerob tidak dijumpai pada enterotiksin. Bakteri ini menetap di lingkungan lautan yang tenang dan dikenal menyebabkan gastroerileritis yang berhubungan dengan makanan.
2. Staphylococcus
Keracunan staphylococcus merupakan gejala intoksikasi yang paling banyak dilaporkan di Amerika Serikat, dimana setiap tahunnya meliputi 20 % sampai 50 % dari seluruh keracunan yang disebabkan oleh makanan. Gejala keracunan ini disebabkan oleh tertelannya suatu toksin yang disebut enterotoksin yang mungkin terdapat di dalam makanan dan diproduksi oleh spesies dan strain tertentu dari bakteri staphylococcus. Toksin ini disebut enterotoksin karena dapat menyebabkan gastroentritis atau inflamasi pada saluran usus. Bakteri yang dapat menyebabkan keracunan staphylococcus atau strain tertentu dan Staphylococcus aerus.
Pembentukan enterotoksin oleh S. Aereus dalam makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya terposisi subtrat suhu, waktu dan pH, adanya garam NaCl dan Nitrit, antibiotik dan sebagainya.
Enterotoksin pada umumnya diproduksi oleh Staphylococcus aereus dalam makanan basah yang sudah pernah dimasak atau dipanaskan. Jenis makanan yang dapat ditumbuhi S. Aereus misalnya daging dan ikan yang telah dimasak atau diolah, hasil olahan telur, makaroni, susu, keju dan hasil olahan sayur yang mengandung daging atau kaldu. Meskipun telah dmasak, makanan-makanan tersebut masih mungkin mengalami kontaminasi. Misalnya melalui tangan/ lingkungan selama penyimpanan sebelum dikonsumsi. Keracunan staphylococcus hampir selalu berasal dari makanan yang telah dimasak, karena pada makanan yang telah dimasak jumlah mikroba lain yang dapat menghambat pertumbuhannya sudah sangat kurang.
3. Salmonella
Salmonella terdapat pada makanan dalam jumlah tinggi, tetapi tidak selalu menimbulkan perubahan dalam hal warna, bau, maupun rasa dari makanan tersebut. Semakin tinggi jumlah salmonella dalam makanan, semakin besar timbulnya gejala infeksi pada orang yang memakan makanan tersebut dan semakin cepat waku inkubasi sampai timbulnya gejala infeksi.
Makanan yang sering terkontaminasi oleh salmonella yaitu telur dan hasil olahannya, ikan dan hasil olahannya, daging ayam, daging sapi serta susu dan hasil olahannya, es krim dan keju. Contoh kasus, hampir setiap penyakit infeksi dari salmonella disebabkan karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar. Bahan makanan yang sudah tercemar tersebut seperti kue yang mengandung susu, daging cincang, sosis, telur dan daging panggang. Gejala awal nyeri kepala, muntah, gangguan pada perut waktu baung air besar, suhu tubuh tinggi disertai batuk kering.
4. E. Coli Pathogen
E. Coli merupakan bakteri berbentuk batang pendek (kokobasil). Gram negative, ukuran 0,4 µm – 0,7 µm x 1,4 µm, dan beberapa strain mempunyai kapsul. Terdapat strain E. Coli yang patogen dan non patogen. E. Coli patogen banyak ditemukan di dalam usus besar manusia sebagai flora normal dan berperan dalam pencernaan pangan dengan menghasilkan vitamin K dari bahan yang belum dicerna dalam usus besar.
5. Clostridium Perfringes
Clostridium pefringens adalah bakteri patogen invasif berbentuk batang, nonmotil, bersifat gram positif dan anaerob, serta mempunyai spora yang relatif stabil terhadap suhu panas. Sel vegetatifnya dapat rusak pada suhu 600C. Sel sebanyak 105 koloni/g memungkinkan terjadinya keracunan makanan. Ciri umum dari keracunan Clostridium pefringens adalah gejala kejang perut dan diare. Pada beberapa kasus, penyebab Clostridium pefringens disebabkan karena kesalahan saat memasak. Sejumlah kecil sel vegetatif tetap ada setelah proses pemasakan dan memperbanyak diri selama proses penyimpanan, akibatnya makanan terkontaminasi.
Clostridium Perfringes biasanya terdapat dalam daging mentah dan tinja hewan, bakteri ini penyebab utama keracunan makanan. Penyakit ini timbul akibat mengkonsumsi makanan yang tercemari organisme tersebut dan disimpan dalam kondisi suhu yang menunjang berkembang biaknya spora dan sel vegetatif yang menghasilkan enterotoksin pada waktu membentuk spora dalam rongga usus. Gejala keracunan timbul 8- 24 jam setelah makanan tercemar, gejala utamanya adalah sakit perut dan diare.
C. Tinjauan Umum Tentang Food Borned Disease
Food Borne Disease adalah suatu gejala penyakit yang timbul akibat makan bahan makanan yang mengandung mikroorganisme atau toxinnya termasuk tumbuh-tumbuhan, bahan kimia, dan binatang (Anwar, 2005).
Penyakit bawaan makanan adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh makanan yang tidak sehat, baik berupa penyakit infeksi, maupun akibat bahan kimia berbahaya terdapat dalam makanan yang dengan sengaja ditambahkan atau tidak. Para ilmuan pada umumnya sepakat bahwa penyebab utama penyakit bawaan makanan adalah pencemaran kuman – kuman yang berbahaya terhadap kesehatan. Penyakit-penyakit karena makanan dapat digolongkan dalam tiga kelompok besar, yakni :
1. Penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh perpindahan kuman penyakit.
2. Keracunan makanan (food poisoning) dan infeksi karena makanan (food infection) yang disebabkan oleh bakteri.
3. Keracunan makanan yang penyebabnya bukan mikroorganisme.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya food borne disease yang disebabkan oleh bakteri adalah sebagai berikut:
1. Kontaminasi makanan oleh bakteri yaitu menyebabkan food borne disease terjadi melalui:
a. Kontaminasi silang (cross contamination), yaitu pencemaran yang terjadi secara langsung sebagai akibat ketidaktahuan dalam pengolahan makanan, contohnya bahan mentah bercampur dengan makanan matang.
b. Kontaminasi peralatan yang tidak bersih.
c. Kontaminasi melalui serangga, binatang pengerat dan hewan lain.
d. Kontaminasi oleh penjamah makanan yang terinfeksi memenuhi syarat 57,39% yang terdapat peningkatan sebesar 3,59%.
e. Metode pemeliharaan makanan yang tidak adekuat.
2. Bakteri yang dapat bertahan hidup dalam makanan karena proses pematangan atau pemanasan yang tidak adekuat dapat menyebabkan food borne disease. Beberapa bakteri dapat bertahan hidup dalam makanan karena mempunyai spora yang melindungi bakteri dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, contoh pemanasan. Pembentukan spora oleh bakteri meningkatkan ketahanan bakteri terhadap panas, bahan kimia dan sel fagosit jika bakteri tersebut masuk kedalam tubuh.
D. Tinjauan Umum Tentang Metode Standard Plate Count (SPC)
Standard Plate Count (SPC) atau Angka Lempeng Total (ALT) menunjukkan jumlah mikroba dalam suatu produk. Di beberapa negara, SPC dinyatakan sebagai Aerobic Plate Count (APC) atau Aerobic Microbial Count (AMC). SPC secara umum tidak terkait dengan bahaya keamanan makanan, namun bermanfaat untuk menunjukkan kualitas, masa simpan, kontaminasi, dan status hygiene/sanitasi selama proses produksi. Media plating (sumber energi) yang digunakan dalam pengujian SPC dapat mempengaruhi jumlah dan jenis bakteri yang diisolasi karena perbedaan persyaratan nutrisi dan garam pada tiap mikroba (SNI 7388:2009). Adapun rumus perhitungan SPC adalah sebagai berikut (Ane, 2013):
(10-3 – kontrol) x 1000 + (10-4 – kontrol) x 10000
Jumlah Kuman =
2
= . . . . . . koloni/gram.
Cara perhitungan koloni pada metode cawan ini adalah dengan menggunakan Standard Plate Count (SPC), caranya adalah sebagai berikut (Ericka, 2011).
1. Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama (satuan) dan angka kedua (desimal). Jika angka yang ketiga sama dengan atau lebih besar dari lima, harus dibulatkan satu angka lebih tiinggi pada angka kedua.
2. Jika pada semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni mikroba pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh karena itu jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang diukur/dihitung. Selanjutnya hasil yang kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
3. Jika pada semua pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada medium, berarti pengeceran yang dilakukan terlalu rendah. Oleh karena itu jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan kemudian dikalikan dengan faktor pengencernya, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
4. Jika digunakan dua cawan petri per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, tidak boleh diambil salah satu. Oleh karena itu harus dipilih tingkat pengenceran yang menghasilkan koloni diantara 30-300.
BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Kantong plastik steril 1 buah
b. Tabung reaksi 5 buah
c. Rak tabung reaksi 1 buah
d. Cawan petri 3 buah
e. Blender 1 buah
f. Pipet ukur 2 buah
g. Bulp 1 buah
h. Pembakar bunsen 1 buah
i. Colony Counter 1 buah
j. Gelas beaker 1 buah
k. Inkubator 1 unit
l. Timbangan analitik 1 unit
m. Vortex mixer 1 unit
n. Labu erlenmeyer 1 buah
o. Spatula steril 1 buah
p. Pemantik api 1 buah
q. Gelas ukur 1 buah
2. Bahan
a. Sampel makanan gorengan 10 gram
b. Larutan NaCl 9 ml/tabung
c. Larutan pepton 90 ml
d. Nutrient agar secukupnya
e. Aquades secukupnya
f. Kertas Label secukupnya
g. Kapas secukupnya
h. Alkohol secukupnya
B. Waktu dan Tempat Pengembilan Sampel
1. Waktu : Rabu, 13 Maret pukul 10.00 WITA.
2. Tempat : Kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.
3. Prosedur Kerja
1. Pengambilan Sampel
a. Disiapkan plastik steril untuk menyimpan sampel makanan.
b. Tangan disterilkan dengan alkohol.
c. Sampel makanan diambil dengan menggunakan spatula steril.
d. Sampel makanan dimasukkan ke dalam plastik steril.
e. Plastik wadah sampel ditutup rapat.
2. Pembuatan Kontrol
a. Disiapkan 1 buah cawan petri dan di beri label (kontrol).
b. NaCl steril dipipet sebanyak 1 ml kedalam cawan petri dan di tambahkan nutrient agar. Kemudian di homogenkan dengan membentuk angka 8 di atas meja sebanyak 12 kali.
c. Cawan petri (kontrol) yang telah dihomogenkan, didiamkan sampai membeku.
d. Setelah membeku, dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu 34oC dengan posisi terbalik selama 1 x 24 jam.
3. Pemeriksaan Sampel Makanan
a. Tangan dan meja tempat praktikum disterilkan dengan menggunakan alkohol.
b. Spatula yang akan digunakan untuk mengambil sampel makanan harus disterilkan dengan menggunakan alkohol.
c. Makanan jajanan gorengan dicampur menjadi satu bersama dengan saus sambalnya sampai merata.
d. Sampel makanan dihancurkan menggunakan spatula dan ditimbang hingga mencapai 10 gram.
e. Sampel makanan 10 gram diblender dengan larutan pepton sebanyak 90 ml hingga halus, kemudian dimasukkan ke dalam gelas beaker.
f. Disiapkan 4 buah tabung reaksi yang masing-masing berisi NaCl 9 ml. keempat tabung tersebut diberi label 10-1, 10-2 , 10-3 , 10-4 secara berturut-turut.
g. Disiapkan 1 pipet ukur steril yang telah dilengkapi bulp.
h. Pipet ukur dan mulut tabung reaksi di plambir sebelum dan sesudah digunakan untuk menghindari terjadinya kontaminasi bakteri baik dari udara, peralatan praktikum, maupun dari praktikan. Khusus untuk pipet ukur, harus selalu dibersihkan dengan aquades setiap kali digunakan agar tidak ada sisa sampel yang tertinggal.
i. Dimasukkan 1 ml sampel makanan kedalam tabung pengenceran pertama (10-1) dengan menggunakan pipet ukur, lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit.
j. Dari tabung pengenceran pertama (10-1), diambil 1 ml sampel dan dimasukkan kedalam tabung pengenceran kedua (10-2), lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit.
k. Dari tabung pengenceran kedua (10-2), diambil lagi sebanyak 1 ml sampel dan dimasukkan kedalam tabung pengencer ketiga (10-3), lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit.
l. Diambil sebanyak 1 ml sampel dari tabung pengenceran ketiga (10-3) dan dimasukkan kedalam tabung pengenceran terakhir (10-4), lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit.
m. Dimasukkan 1 ml sampel dari tabung pengenceran ketiga (10-3) dan keempat (10-4) berturut-turut kedalam cawan petri yang berlabel 10-3 dan 10-4 , lalu diberi nutrient agar hingga menutupi seluruh permukaan cawan, kemudian masing-masing sampel dihomogenkan dengan cara diputar membentuk angka 8 sebanyak 12 kali. Sampel didiamkan sampai membeku selama ± 10 menit.
n. Kedua cawan petri (10-3 dan 10-4) yang telah membeku, dimasukkan kedalam inkubator selama 1 x 24 jam pada suhu 34˚C.
o. Setelah 1 x 24 jam, cawan petri dikeluarkan dari dalam inkubator. Bakteri yang tampak pada cawan petri kemudian dihitung dengan menggunakan colony counter.
4. Perhitungan Jumlah Bakteri
Sampel yang telah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35°C, dikeluarkan dari inkubator. Selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah koloni bakeri (berupa bercak atau titik-titik bulat berwarna putih) yang terdapat dalam cawan petri dengan alat colony counter. Untuk jumlah kuman masukkan kedalam rumus:
(10-3 – kontrol) x 1000 + (10-4 – kontrol) x 10000
Jumlah Kuman =
2
= . . . . . . koloni/gram.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di Laboratorium Terpadu FKM Universitas Hasanuddin, maka diperoleh hasil pemeriksaan bakteriologis pada makanan gorengan di FKG Universitas Hasanuddin sebagai berikut:
Tabel 1
Hasil Pengamatan Jumlah Koloni Makanan (Gorengan)
Di Kantin Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Hasanuddin
No. Pengenceran Jumlah Koloni
1. 10-3 307 koloni/gram
2. 10-4 126 koloni/gram
3. Kontrol 37 koloni/gram
Sumber : Data primer, 2013
Berdasarkan perhitungan Standard Plate Count (SPC), maka didapatkan hasil sebagai berikut:
(10-3 – kontrol) x 1000 + (10-4 – kontrol) x 10000
Jumlah Kuman =
2
(307 – 37) x 1000 + (126 - 37) x 10000
=
2
270000 + 890000
=
2
1.116.000
= = 580.000 koloni/gram
2
B. Pembahasan
Berdasarkan tabel hasil pengamatan jumlah koloni makanan (gorengan) di kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, maka didapatkan hasil pada pengenceran ketiga (10-3) dan keempat (10-4) berturut-turut adalah 307 koloni/gram dan 126 koloni/gram. Didapatnya hasil yang berbeda pada kedua media cawan dengan pengenceran, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengenceran yang dilakukan, semakin sedikit mikroba yang tumbuh dalam media. Dapat dilihat bahwa pada pengenceran ketiga (10-3) yaitu terdapat 307 koloni, lebih banyak jumlahnya dibandingkan hasil yang didapatkan pada pengenceran keempat (10-4) yaitu 126 koloni/gram.
Pertumbuhan bakteri pada medium agar pada umumnya berbentuk koloni, berupa lendir berwarna putih dan mengkilap. Pada percobaan ini, untuk membiakkan atau menumbuhkan bakteri maka dilakukan pengenceran sampai 4 (empat) kali yaitu, suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain sampai pada pengenceran keempat. Metode ini umumnya dilakukan pada mikroba yang dapat membentuk koloni yang mudah terpisah pada media padat seperti kebanyakan bakteri, khamir, jamur, dan alga uniseluler (Hadioetomo, 1985 dalam Sudarsono, 2008).
Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi jumlah mikroba pada media cawan atau dengan kata lain untuk memperkecil jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan, sehingga mempermudah dalam perhitungan jumlah mikroba. Tujuan dari pengenceran ini sesuai pernyataan Sudarsono (2008), yaitu untuk menurunkan jumlah bakteri sehingga pada pengenceran terakhir akan didapatkan jumlah koloni yang lebih sedikit dan mudah diketahui jumlahnya.
Disamping itu, penggunaan media agar bukan hanya difungsikan sebagai media pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba, tetapi juga untuk tujuan-tujuan lain, misalnya untuk isolasi, seleksi, evaluasi, dan deferensiasi biakan yang didapatkan. Artinya, penggunaan beberapa jenis zat tertentu yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba, banyak dilakukan dan dipergunakan. Sehingga tiap-tiap media mempunyai sifat (spesifikasi) tersendiri sesuai dengan maksudnya.
Spesifikasi media yang dimaksud adalah pada percobaan yang dilakukan, 2 (dua) cawan petri digunakan sebagai biakan mikroba dari hasil pengenceran dan 1 (satu) untuk medium kontrol yang berfungsi untuk mengetahui kondisi awal lingkungan pemeriksaan dengan memasukkan 1 ml NaCl ke dalam cawan petri dan dituangkan nutrient agar, lalu dihomogenkan dengan cara diputar membentuk angka 8 sebanyak 12 kali pada medium datar seperti pada pembuatan medium sampel.
Selain itu, dilakukan pula beberapa perlakuan, seperti plambir sebelum dan setelah alat digunakan ataupun selalu dekat dengan pembakar bunsen pada saat bekerja dengan tujuan menghindari kontaminasi bakteri, selain dari bakteri yang dibiakkan. Kemudian larutan dihomogenkan dengan vortex mixer agar pada larutan tidak terjadi dua fase dan larutan tercampur dengan rata. Pada percobaan dilakukan juga penimbangan bahan makanan dengan tujuan agar sampel yang akan periksa atau amati, sesuai takaran yang telah ditentukan.
Selanjutnya, cawan petri dimasukkan ke dalam inkubator selama 1 x 24 jam dengan keadaan terbalik. Waktu ini adalah masa yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri yang dikenal sebagai waktu generasi. Suhu yang digunakan selama inkubasi yaitu 34˚C dan bakteri yang dapat tumbuh pada suhu ini adalah bakteri jenis mesofil dengan suhu minimum 10-20 ˚C, optimum 20-40 ˚C, dan maksimum 40-45 ˚C.
Untuk menghitung jumlah koloni, digunakan alat colony counter yang memudahkan perhitungan koloni bakteri yang sulit diamati dengan penglihatan langsung. Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah koloni pada makanan (gorengan) antara lain dari cara pengolahan dan penyajian termasuk di dalamnya hygiene dan sanitasi makanan, baik penjamah maupun tempat kerja.
Adapun hasil perhitungan untuk kontrol didapatkan hasil sebanyak 37 koloni/gram. Hal ini menandakan bahwa kondisi awal lingkungan adalah mengandung mikroba sebanyak 37 koloni/gramnya. Meskipun pada dasarnya hasil pemeriksaan untuk kontrol idealnya 0 (nol) koloni/gram, akan tetapi nilai ini boleh jadi karena ada kontaminasi dari praktikan ataupun lingkungan dilakukannya pemeriksaan, termasuk alat yang digunakan pada saat praktikum. Dengan catatan bahwa nilai dari kontrol harus lebih kecil dari nilai pada pemeriksaan media biakan mikroba, seperti yang didapatkan pada hasil perhitungan menggunakan colony counter yaitu pada pengenceran ketiga (10-3) dan keempat (10-4) berturut-turut adalah 307 koloni/gram dan 126 koloni/gram, lebih tinggi dari nilai hasil pemeriksaan untuk kontrol yaitu 37 koloni/gram.
Dalam proses pemeriksaan bakteriologis makanan, digunakan metode Standard Plate Count (SPC) dengan prosedur fermentasi tabung ganda. Pada prosedur percobaan ini, dilakukan upaya penumbuhan mikroba pada kultur atau biakan buatan di luar habitat alami. Dalam hal ini, biakan buatan yang digunakan adalah nutrient agar. Adapun nutrient agar berfungsi sebagai media pertumbuhan yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang sangat dibutuhkan oleh bakteri, seperti agar sebagai sumber energi, aquades, pepton untuk pH, dan sebagainya,
Hasil perhitungan dengan metode Standard Plate Count (SPC), diperoleh jumlah koloni pada gorengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin sebanyak 580.000 koloni/gram, sedangkan untuk standar batas maksimum cemaran mikroba oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hanya 1 x 104 koloni/gram. Hal Ini berarti bahwa jumlah koloni pada gorengan melampaui batas maksimum cemaran mikroba yang telah ditetapkan pada pangan. Banyaknya bakteri dalam makanan (gorengan), menurunkan kualitas kandungannya karena bakteri yang tumbuh dalam makanan akan mengubah makanan ini menjadi zat-zat organik yang kemudian digunakan oleh bakteri untuk memenuhi kebutuhan energinya (Dwidjoseputro, 2005), sehingga makanan (gorengan) tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat, dalam hal ini dilihat dari segi bakteriologis.
Keberadaan mikroba (bakteri) pada makanan (gorengan) di kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, selain berasal dari lingkungan pemeriksaan sampel, dapat pula dipengaruhi oleh proses pengolahan yang tidak hygienis, terlebih makanan (gorengan) disajikan secara terbuka, sehingga kontaminasi oleh mikroba lebih besar, baik itu dari penjamah, pembeli ataupun kontaminasi langsung dari lingkungan kantin tersebut. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan kontaminasi mikroba pada makanan (gorengan) berasal dari ketidaktelitian praktikan pada saat melakukan percobaan, mulai dari proses pengambilan sampel yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dan terlalu banyak berbicara pada saat melakukan percobaan.
Akibat kontaminasi bakteri terhadap sampel gorengan seperti E. coli, Salmonella sp. dan beberapa bakteri patogen lainnya, akan mempengaruhi kesehatan meskipun pada dasarnya konsumsi satu atau dua kali masih berada pada tingkat yang bisa ditoleransi. Akan tetapi, keterpaparan yang lebih jauh bisa akan menyebabkan terjadinya food borne disease, misalnya diare ataupun keracunan makanan. Oleh beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan diare, ada jenis bakteri yang bahkan sampai menyebabkan diare berdarah, yaitu Clostridium pefringens (SNI 7388:2009).
Oleh karena itu, higiene dan sanitasi makanan sangat penting untuk diperhatikan, terlebih lagi bagi penjamah makanan dalam mengolah dan menyajikan makanan agar penjamah dan konsumen senantiasa terjaga kesehatannya.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa jumlah koloni bakteri yang terkandung pada makanan (gorengan) di Kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin adalah sebanyak 580.000 koloni/gram dan telah melampaui batas yang diperkenankan oleh SK DIRJEN Pemantauan Obat Dan Makanan (POM) tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dalam Makanan Nomor HK.00.06.1.52.4011 Tanggal 28 Oktober 2009 yaitu 1 x 104 koloni/gram.
B. Saran
1. Dalam melakukan percobaan, untuk mendapatkan hasil yang akurat maka dibutuhkan ketelitian dan penguasaan materi oleh praktikan.
2. Kepada mahasiswa, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait pemeriksaan bakteriologis pada makanan, khususnya pada gorengan sebagai salah satu makanan jajanan yang digemari anak sekolahan termasuk mahasiswa.
3. Kepada tim pengajar, sebelum praktikum dimulai, disarankan untuk memberikan pengantar atau dasar teori tentang yang akan dipraktikkan.
4. Kepada masyarakat, diharapkan lebih berhati-hati dalam memilih makanan jajanan untuk menghindari kemungkinan terburuk jika terjadi kontaminasi bakteri pada makanan.
Tenri and CYBER Team
ini foto saya bersama Ratunya CYBER: Miss Inha
ini foto bersama Tenri & CYber Team (Fikar: Kapten CYber)
ini foto bersama Sopirnya CYber. Red: Khaerul Muqsith
Tenri & CYber Team. yang motret adalah sopirnya CYber: Muqsith
dear AYAH
Ayah…… sekarang saya sudah beranjak dewasa. 16 tahun sudah kau meninggalkanku. 16 tahun saya menjadi yatim tanpa bimbinganmu. saya memerlukan segunung ketabahan dan kekuatan iman….!! Perasaan manusiawiku kepadamu sungguh tak dapat saya gambarkan bagaimana. Meski begitu saya menyadari kecintaan kepada Allah harus saya tempatkan di atas segalanya. Karena apa yang ada pada saya bukanlah milikku. Karunia Allah sajalah yang membuatkku dapat merasakan ni’matnya iman dan islam.
terkadang, rasa rindu yang mendalam tak dapat saya tepi melihat orang lain tak hidup sepertiku ayah. tapi saya selalu bersyukur bisa hidup layak meskipun sedikit susah. setiap kali memandang ibu, air mata ini tak bisa tertahankan. Ayah datanglah dalam tidurku, semata ingin melihat wajahmu seperti apa sekarang.
Rasa sayangku….. rasa rinduku….. rasa cintaku…… semuanya harus aku kuburkan, dan akan ku sampaikan dalam doaku. Selamat jalan Ayah…. aku akan berusaha jadi amalmu, lewat doa-doaku untukmu. Agar menjadi tabungan untuk menghadap Sang Ilahi...
Jumat, 19 April 2013
pemeriksaan bakteriologis pada air danau
LAPORAN
PRAKTIKUM II
PEMERIKSAAN
BAKTERIOLOGIS PADA
AIR
DANAU
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
BAGIAN
KESEHATAN LINGKUNGAN
FAKULTAS
KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Keadaan lingkungan dapat mempengaruhi
kondisi kesehatan masyarakat. Banyak aspek kesehatan manusia dipengaruhi oleh
lingkungan dan banyak penyakit dapat dimulai, didukung, ditopang atau
dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan.
Air merupakan salah satu komponen
lingkungan yang pada dasarnya semua makhluk hidup di dunia ini sangat
menggantungkan hidupnya pada air. Untuk manusia, air selain sebagai konsumsi
makan dan minum juga diandalkan untuk keperluan pertanian, industri dan lain –
lain.
Salah satu sumber air bagi makhluk hidup yang ada sampai sekarang
ini adalah danau. Air yang berasal dari danau merupakan air yang diam dan
tersimpan dalam waktu yang cukup lama. Air jenis ini biasanya mengandung
sisa-sisa pembusukan dialam seperti pembusukan akar-akar, rumput-rumput serta
mengandung alga, fungi dan jasad-jasad renik lainnya. perlu diperhatikan adanya
kandungan tanin dan lignin didalam air danau sebagai sisa pembusukan
rumput-rumputan dan akar kayu-kayuan. Air yang berasal dari laut mengandung
garam-garam dalam kadar yang cukup tinggi (Kusnoputranto & Susanna, 2005)
Selain itu, keberadaan kawasan pemukiman
atau industri di sekitar danau akan menimbulkan
pencemaran dan penurunan kualitas dari
air danau tersebut. Ini dikarenakan pengelolaan limbah domestik maupun industri
yang tidak baik. Limbah yang dihasilkan baik domestik maupun industri masuk ke
badan air melalui aliran air dalam tanah (interflow)
maupun di permukaan (run off). Limbah
domestik yang memiliki kadar BOD yang cukup tinggi dapat mencemari air danau
melalui rembesan air dalam tanah. Ini menyebabkan kadar BOD dalam air danau
akan meningkat. Nilai BOD yang tinggi menunjukkan aktivitas dekomposisi
kandungan bahan organik yang tinggi dalam perairan yang dilakukan oleh
bakteri/mikroorganisme.
Pada dasarnya bakteri yang hidup di
dalam air dibedakan atas bakteri patogen dan non-patogen. Bakteri patogen yang
hidup di dalam air dapat menyebabkan penyakit atau gangguan kesehatan. Beberapa
contohnya adalah Salmonella thyposa, Shigella dysenteriae, Vibrio colerae,
Salmonella parathypi, Salmonella thypi. Untuk bakteri non-patogen terdiri
atas golongan bakteri Coliform, Fecal streptococci, Iron bakteri,
Actinomycetes (Purbowarsito, 2011).
Tingginya kandungan bakteri dalam suatu
badan air akan menurunkan kualitas air tersebut dan keberadaan bakteri Coliform menjadi salah satu indikator adanya pencemaran pada badan air dalam
hal ini adalah danau sebagai salah satu sumber air yang masih dimanfaatkan. Salah satu contohnya, yaitu E. coli. E.coli dapat menyebabkan penyakit pada
manusia seperti diare (Astawan, 2007 dalam Mahdi & Hadi, 2011) di mana
sampai tahun 2001 diare masih merupakan penyebab kematian bayi ketiga di
Indonesia (ISSDP, 2006 dalam Mahdi & Hadi, 2011).
Namun, untuk mendapatkan
kemantapan hasil analisis, perlu dilakukan analisis bakteri Coliform tinja sebagai indikator untuk
uji pembuktian/pelengkap adanya kontaminasi tinja manusia (Ane, 2013).
Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologis air pada
danau guna mengetahui tingkat cemaran terkhusus cemaran oleh bakteri golongan coli.
B.
Tujuan
Percobaan
Berdasarkan latar belakang diatas maka tujuan yang
ingin dicapai adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui keberadaan Coliform pada
air danau Universitas Hasanuddin.
2. Untuk
mengetahui jumlah fecal coli pada air
danau Universitas Hasanuddin.
C.
Prinsip
Percobaan
1. Untuk
menghindari kontaminasi, peralatan harus disterilkan sebelum digunakan.
2.
Sebelum dan sesudah mengambil sampel air
dari botol sampel, pipet harus diplumbir terlebih dahulu.
3. Harus
menggunakan pakaian yang bersih selama melakukan percobaan.
4. Agar tidak terjadi kontaminasi,
sumber-sumber yang potensial menjadi kontaminan harus diidentifikasi dan
sedapat mungkin dihindari.
5.
Rentang waktu pada saat pengambilan
sampel hingga dilakukan percobaan tidak boleh lebih dari 1 x 24 jam.
6.
Saat
melakukan pemindahan sampel ke dalam tabung peragihan, tidak boleh jauh dari
pembakar bunsen.
7. Pencampuran
antara sampel dengan media (kaldu laktosa dan cairan BGLB) harus terjadi dengan sempurna.
8. Jika
dalam waktu 2x24 jam terdapat gelembung gas dalam tabung, tes dinyatakan
positif. Sebaliknya bila tidak ditemukan gelembung gas maka tes dikatakan
negatif.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Tinjauan
Umum Tentang Air Bersih
Air merupakan
sumber daya alam yang dapat memenuhi hajat hidup orang banyak, oleh sebab itu
perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup
lainnya. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan
air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana dengan
memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Namun,
sebagai akibat dari pesatnya proses pembangunan di segala bidang, baik bidang
pertanian, peternakan, industri dan lain-lain, serta laju pertumbuhan penduduk
yang sangat cepat seringkali pemanfaatan air tidak lagi dilakukan sebagaimana
mestinya. Hal ini memberikan dampak negatif yang tidak sedikit yaitu
mempengaruhi baik sifat fisik maupun sifat kimia air, sehingga menurunkan
kualitas air (Widyatmanti & Natalia, 2006).
Air bersih
adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari – hari yang kualitasnya
memenuhi persyaratan kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air
permandian adalah air yang digunakan pada tempat-tempat permandian bagi umum
tidak termasuk untuk pengobatan tradisional dank loam renang, yang kualitasnya
memenuhi syarat kesehatan (Permenkes RI No. 416 Tahun 1990).
Klasifikasi mutu
air menurut peraturan RI nomor 82 tahun 2001
tentang Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Ditetapkan
menjadi 4 (empat) kelas yaitu :
1. Kelas satu, air yang
peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan
lain yang memper-syaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
2. Kelas dua, air yang
peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air,
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan
atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut.
3. Kelas tiga, air yang
peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan,
air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan
mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
4.
Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman
dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut.
Air merupakan media
yang paling baik untuk berkembangnya mikroorganisme, khususnya bakteri yang
berbahaya bagi tubuh. Air sangat mudah tercemar oleh bahan-bahan organik maupun
anorganik dan jasad renik. Oleh karena itu, air harus memenuhi persyaratan
fisik sebagai berikut (Suyono & Budiman, 2011):
1.
Syarat fisik
a.
Tidak berbau
b.
Tidak berwarna
c.
Tidak berasa
d.
Terasa segar
2.
Syarat kimia
a.
Derajat keasaman
(pH) antara 6,5-9,2
b.
Tidak boleh ada
zat kimia berbahaya dan beracun, kalaupun ada, jumlahnya harus sedikit sekali.
c.
Unsur kimiawi
yang diizinkan tidak boleh melebihi standar yang telah ditentukan.
d.
Unsur kimiawi
yang disyaratkan mutlak harus ada dalam air.
3.
Syarat
bakteriologis
a.
Tidak ada
bakteri maupun virus berbahaya (patogen) dalam air.
b.
Bakteri yang
tidak berbahaya, namun menjadi indikator pencemaran tinja (bakteri Coliform) harus negatif.
4.
4. Syarat
radioaktivitas: tidak ada zat radiasi berbahaya dalam air.
B.
Tinjauan
Umum Tentang Danau
Danau
merupakan cekungan yang terjadi karena peristiwa alami atau sengaja dibuat
manusia untuk menampung dan menyimpan air yang berasal dari air hujan, mata air
dan air sungai (Utoyo, 2006). Menurut Departemen Permukiman dan Prasaraana
Wilayah Direktorat Jendral Penataan Ruang, danau adalah wadah genangan air di atas permukaan
tanah yang berbentuk secara alamiah dan atau air permukaan sebagai siklus
hidrologi, dan merupakan salah satu bagian yang berperan potensial dalam
kawasan lindung.
Pada
dasarnya danau memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi ekologi dan
sosial-ekonomi-budaya. Fungsi ekologi danau adalah pengatur tata air,
pengendali banjir, unsur hara dan bahan pencemar. Fungsi sosial-ekonomi-budaya
danau adalah memenuhi keperluan hidup manusia, antara lain untuk air minum dan
kebutuhan sehari-hari, sarana transportasi, keperluan pertanian, tempat sumber
protein, industri, pembangkit tenaga listrik, estetika, rekreasi, dan industri
pariwisata.
Selain
itu, danau juga berfungsi untuk mengatur sistem hidrologi yaitu dengan
menyeimbangkan aliran air antara hulu dan hilir sungai, serta memasok air ke
kantung–kantung air lain seperti akuifer (air tanah), sungai dan persawahan.
Dengan demikian danau dapat mengendalikan dan meredam banjir pada musim hujan,
serta menyimpannya sebagai cadangan pada musim kemarau (KLH, 2011).
Umumnya
perairan danau selalu menerima masukan air dari daerah tangkapan air di sekitar
danau, sehingga perairan danau cenderung menerima bahan–bahan terlarut yang
terangkut bersamaan dengan air yang masuk. Oleh karena itu konsentrasi zat–zat
yang terdapat di danau merupakan resultan dari zat-zat yang berasal dari aliran
air yang masuk.
Terdapat
berbagai ancaman penyebab kerusakan ekosistem danau baik secara alami maupun
akibat aktivitas manusia. Penyebab kerusakan secara alami, misalnya banjir,
gempa bumi, dan vulkanik. Sedangkan ancaman kerusakan yang disebabkan aktivitas
manusia, misalnya sedimentasi, pencemaran (limbah rumah tangga, limbah
pertanian, dan limbah industri), pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan,
memasukkan spesies eksotik, konversi lahan, perubahan sistem hidrologi, serta
pembangunan pemukiman (Utoyo,
2006).
Sumber
pencemaran yang masuk ke badan perairan, dibedakan atas pencemaran yang
disebabkan oleh alam dan pencemaran karena kegiatan manusia. Sumber bahan
pencemar yang masuk ke perairan dapat berasal dari buangan yang
diklasifikasikan sebagai: (1) point source discharges (sumber titik) dan
(2) non point source (sumber menyebar). Sumber titik atau sumber
pencemaran yang dapat diketahui secara pasti dapat merupakan suatu lokasi
tertentu seperti dari air buangan industry maupun domestik serta saluran
drainase.
Pencemar
bersifat lokal dan efek yang diakibatkan dapat ditentukan berdasarkan
karakteristik spasial kualitas air. Sedangkan sumber pencemar yang berasal dari
sumber menyebar berasal dari sumber yang tidak diketahui secara pasti. Pencemar
masuk ke perairan melalui run off (limpasan) dari permukaan tanah
wilayah pertanian yang mengandung pestisida dan pupuk, atau limpasan dari daerah
permukiman dan perkotaan (KLH, 2011).
Bahan
pencemar yang terdapat dalam air limbah dapat berupa bahan terapung, padatan
tersuspensi atau padatan terlarut. Selain itu, air limbah juga dapat mengandung
mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa. Komposisi air limbah
domestik sangat bervariasi tergantung pada tempat, sumber dan waktu (Suyono
& Budiman, 2011)
Peraturan
Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian
pencemaran air menyatakan bahwa, pencemaran air adalah masuknya atau
dimasukkannya mahkluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air oleh
kegiatan manusia, sehingga kualitas perairan turun sampai pada tingkat tertentu
yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
Peraturan ini menyatakan bahwa pencemaran harus ditanggulangi dan
penanggulangannya adalah merupakan kewajiban semua pihak.
Sesuai
dengan UU. No. 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air, yang terdiri 3 komponen utama yaitu konservasi, pemanfaatan
dan pengendalian daya rusak air. Waduk embung, situ dan danau yang merupakan
sumber daya air telah banyak banyak mengalami penurunan fungsi dan kerusakan
ekosistem. Hal ini disebabkan oleh
karena pengelolaan waduk/danau yang banyak mengalami kendala.
Sumber
air danau dapat berasal dari berbagai sumber. Adapun sumber-sumber air danau
terdiri dari (KLH, 2011):
a. Air
sungai yang mengalir ke dalam basin dan sebagai inflow.
b. Air
yang berasal dari hasil pencaraian salju dan es
c. Air
hujan yang tertangkap langsung oleh basin danau tersebut.
d. Air
dari aliran permukaan (over land flow)
yang berasal dari air hujan yang berasal dari air hujan yang jatuh
e. Air
yang berasal dari dalam tanah (air tanah) yang permukaannya lebih tinggi dari pada
permukaan air danau sehingga mengalir ke dalam danau
f.
Air yang berasal dari mata air atau
spring yang masuk ke danau tersebut.
Volume air danau selalu mengikuti perubahan musim.
Pada danau alam, ketinggian permukaan air maksimum di capai pada musim penghujan.
Sebaliknya, ketinggian air minimum di capai pada musim kemarau. Berbeda dengan
danau buatan manusia yang memiliki pintu air sehingga ketinggian permukaan air
dapat diatur sedemikian rupa seperti kepentingannya.
C.
Tinjauan
Umum Tentang Bakteri Coliform
Bakteri Coliform
merupakan jenis bakteri yang berasal dari saluran pencernaan manusia (terdapat
pada tinja) dan paling tinggi tingkat ketahanan hidupnya dibandingkan jenis
bakteri lainnya. Apabila bakteri Coliform
ditemukan dalam jumlah besar pada air, menandakan bahwa air tersebut mengalami
pencemaran. Bakteri Coliform
berbentuk batang, ada yang bersifat aerob maupun anaerob, tidak membentuk
spora, bersifat gram negatif, dan mampu meragikan lactose dengan membentuk gas dalam waktu 2 x 24 jam pada suhu 35 oC
(Ane, 2013).
Contoh bakteri Coliform
adalah E. coli dan Klebsiella aerogeus. Keberadaan E. coli pada sumber air mengindikasikan
bahwa pasti terjadi kontaminasi oleh tinja manusia dan berarti bahwa air
tersebut tercemar. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI), syarat E. coli pada air minum adalah 0 (nol)
koloni per 100 ml. Semakin tinggi tingkat kontaminasi E. coli semakin tinggi pula resiko kehadiran bakteri patogen
lainnya yang biasa hidup dalam kotoran manusia yang dapat menyebabkan diare
(Suprihatin, 2004 dalam Boekoesoe, 2010).
E.
coli mempunyai bentuk batang pendek, gram negatif,
tidak berspora, ukuran 0,4 – 0,7 mikron, sebagian besar gerak positif dengan flagel peritrich dan mempunyai kapsul. E. coli merupakan flora normal saluran
pencernaan dan merupakan salah satu kuman yang menghasilkan indol positif dan
tergolong kuman yang cepat meragi laktosa.
E.
coli memiliki beberapa antigen, yaitu (1) antigen
O (somatic) yang bersifat tahan panas atau termostabil, dan terdiri dari
lipopolisakarida yang mengandung glukosamin dan terdapat pada dinding sel
bakteri gram negative; (2) antigen H (flagel) yang bersifat tdak tahan panas
atau termolabil dan akan rusak pada suhu 100°C; (3) antigen K (kapsul). Antigen
ini terdapat pada permukaan luar bakteri, terdiri dari polosakarida dan bersifat
tidak tahan panas (Purbowarsito, 2011).
Ada beberapa alasan mengapa bakteri Coliform dipilih sebagai indikator terjadinya kontaminasi tinja
manusia dibandingkan bakteri patogen lainnya di saluran pencernaan manusia
antara lain (Chandra, 2007):
1. Jumlah bakteri Coliform
cukup banyak dalam usus manusia. Sekitar 200-400 miliar bakteri ini dikeluarkan
melalui tinja setiap harinya. Karena jarang ditemukan pada air, keberadaan
bakteri patogen ini menunjukkan bahwa adanya kontaminasi tinja manusia.
2. Bakteri Coliform lebih
mudah dideteksi dibandingkan bakteri patogen lainnya.
3. Bakteri Coliform lebih
tahan hidup pada kondisi yang tidak menguntungkan dibandingkan bakteri patogen
lainnya.
4. Bakteri Coliform
resisten terhadap purifikasi air secara alamiah. Karena itu, jika bakteri Coliform ditemukan pada sampel air,
dapat disimpulkan bahwa bakteri patogen lainnya yang terdapat dalam usus
manusia juga ditemukan pada sampel air tersebut, meskipun dalam jumlah sedikit.
Berdasarkan ketetapan Permenkes No.
416/MENKES/PER/IX/1990 bahwa total Coliform yang diperbolehkan pada air bukan perpipaan dalah
maksimum 50 MPN/100 ml, sedangkan pada air perpipaan adalah maksimum 10 MPN/100
ml.
Penyakit
– penyakit yang ditimbulkan oleh kuman E. coli
adalah infeksi saluran kemih mulai dari sistitis sampai pielofritis,
infeksi ini dapat terjadi akibat sumbatan saluran kemih karena adanya
pembesaran prostat, baru dan kehamilan. Infeksi piogenik seperti infeksi luka,
peritoritis, kolesistis dan meningitis, epidemic diarchea pada bayi dan
neonates (Hastomo, 2010).
D.
Tinjauan
Umum Tentang Medium Pertumbuhan
Medium
pertumbuhan mikroorganisme merupakan suatu bahan yang terdiri dari campuran
zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi dalam medium untuk menyusun komponen sel
dirinya. Dalam pembuatan medium
pertumbuhan perlu dilakukan sterilisasi dan menerapkan aseptis untuk
menghindari kontaminasi pada medium. Dua jenis medium dapat dibedakan
berdasarkan komponen dasar yang pembentuknya, yaitu (Bapelkes Cikarang, 2012):
1.
Medium kompleks
Medium ini terbuat dari bahan alami yang
komposisinya tidak diketahui secara pasti. Komposisi medium ini terdiri atas
hasil penguraian (ekstrak) berbagai jenis jaringan tumbuhan /daging /ragi yang
kaya akan polipeptida, asam amino, vitamin dan mineral.
2. Medium
yang tersusun dari bahan kimia tertentu
Medium
ini dibuat dari beberapa jenis bahan kimia dengan konsentrasi tertentu. Bahan
kimia yang digunakan berasal dari:
a.
Sumber C : glukosa, dekstrosa, dan
sukrosa
b.
Sumber N : NH4NO3, NH4Cl,
dan urea
c.
Sumber P : KH2PO4
d.
Sumber vitamin
e.
Sumber mineral : Fe, Mn, dan S
Adapun media pertumbuhan pada pemeriksaan
bakteriologis air adalah sebagai berikut:
1.
Media Laktosa
Laktosa adalah karbohidrat yang
hanya terdapat dalam susu. Laktosa dibutuhkan oleh beberapa spesies bakteri.
Beberapa bakteri ada yang mampu memfermentasi laktosa dan beberapa laktosa. Fermentasi laktosa menghasilkan asam
(Nuryanto, 2011).
2.
Media Brilliant Green Lactose Broth (BGLB)
Media BGLB merupakan media yang akan
berwarna hijau metalik jika terdapat reaksi fermen dengan media. Warna ini
berasal dari adanya koloni Coliform
yang bereaksi dengan BGLB. merupakan
bakteri fermentasi, seringkali menghasilkan warna hijau metalik mengkilap. Bakteri
yang menfermentasi dengan lambat akan menghasilkan koloni berwarna merah muda.
Larutan BGLB terbuat dari (Purbowarsito,
2011):
a. Peptone
10 g
b. Laktosa 10 g
c. Oxgall 20 g
d. Brilliant
green 0,0133 g
e. Aquades 1 liter
E.
Tinjauan
Umum Tentang Most Probable Numbers
(MPN)
Most Probable Numbers (MPN) adalah suatu metode enumerasi
mikroorganisme yang menggunakan data dari hasil pertumbuhan mikroorganisme pada
medium cair spesifik dalam seri tabung yang ditanam dari sampel padat atau cair
yang ditanam berdasarkan jumlah sampel atau diencerkan menurut tingkat seri
tabungnya sehingga dihasilkan kisaran jumlah mikroorganisme yang diuji dalam
nilai MPN/satuan volume atau massa sampel. Misalnya dengan larutan yang berisi
1.000 sel/ml, diencerkan 10 kali menjadi larutan yang berisi 100 sel/ml. Lalu
diencerkan lagi 10 kali, sehingga jumlah sel adalah 10 sel/ml, dan diencerkan
10 kali lagi, sehingga hanya terdapat 1 sel/ml, dan diencerkan lagi 10 kali
tinggal 0,1 sel/ml (Hastomo, 2010).
Pengujian air untuk pemeriksaan bakteriologis air
dilakukan dalam beberapa tingkatan antara lain sebagai berikut (Ane, 2013):
1.
Uji Perkiraan (Presumptive Test)
Uji perkiraan merupakan uji pendahuluan untuk
mengetahui apakah sampel air mengandung bakteri. Jika terbentuk gelembung pada tabung peragian
(tabung media laktose) setelah inkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 35 oC,
terdapat indikasi bahwa sampel air mengandung bakteri jenis Coliform. Untuk lebih memastikan bahwa
yang terdapat pada sampel air adalah bakteri Coliform, perlu dilakukan uji penegasan ke dalam media Brilliant Green Lactose Broth (BGLB).
Jika dalam media tersebut terbentuk gas, sampel air benar-benar positif
mengandung bakteri Coliform.
2.
Uji Penegasan (Confirmed Test)
Uji penegasan merupakan uji lanjutan dari uji
perkiraan pada tabung media laktosa yang positif mengandung gelembung. Pada uji
penegasan, digunakan media Brilliant
Green Lactose Broth (BGLB). Jika dalam media tersebut terbentuk gas setelah
inkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 35 oC, sampel air benar-benar
positif mengandung bakteri Coliform. Untuk mendapatkan kemantapan hasil analisis, perlu
dilanjutkan ke uji pelengkap.
3.
Uji Pelengkap (Completed Test)
Uji pelengkap merupakan uji terakhir
yang dijadikan indikator untuk membuktikan adanya kontaminasi tinja manusia pada
sampel air. Pada uji ini, dilakukan analisis bakteri Coliform tinja (bakteri fecal)
melalui perhitungan Most Probable Number
(MPN). MPN ditentukan dengan mencocokkan tabel Hoskin J.K dan hasilnya
dinyatakan dalam MPN Coliform/100 ml air
(Sartika, 2005).
Output
metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk koloni
(colony forming unit) dalam sampel.
Namun, pada umumnya, nilai MPN juga diartikan sebagai perkiraan jumlah individu
bakteri. Satuan yang digunakan, umumnya per 100 mL atau per gram. Jadi misalnya
terdapat nilai MPN 10/g dalam sebuah sampel air, artinya dalam sampel air
tersebut diperkirakan setidaknya mengandung 10 Coliform pada setiap gramnya.
Makin kecil nilai MPN, maka air tersebut makin tinggi kualitasnya, dan makin
layak minum. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95 persen sehingga pada
setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi
(Hastomo, 2010).
BAB
III
METODE PERCOBAAN
A.
Alat
dan Bahan
1.
Alat
a.
Botol sampel 1
buah
b.
Tabung reaksi 9
buah
c.
Pembakar Bunsen 1
buah
d.
Tabung Durham 9 buah
e.
Pipet 1
buah
f.
Rak tabung 1
buah
g.
Ose (wire
loop) 1
buah
h.
Bulp 1
buah
i.
Inkubator 1
unit
j.
Korek api 1
buah
2.
Bahan
a. Air
sampel 200
ml
b. Tissue secukupnya
c. Kaldu
laktosa pekat 6
ml/tabung
d. Kaldu
laktosa encer 10
ml/tabung
e. Larutan
Brilliant Green Lactose Bile Broth
(BGLB) 6 ml/tabung
f. Alkohol secukupnya
g. Kapas secukupnya
h. Kertas
label secukupnya
B.
Waktu
dan Tempat Pengembilan Sampel
1. Waktu : Rabu, 6 Maret pukul 10.30 WITA.
2. Tempat : Danau Universitas Hasanuddin Kota
Makassar.
3.
Prosedur
Kerja
1. Pengambilan
Sampel
a. Tali
dan kertas penutup botol sampel dilepas dari botol sampel.
b. Botol
sampel yang sebelumnya telah distrerilkan dengan memberi alkohol di sekitar
mulut botol, dibuka.
c. Botol sampel dimasukkan ke dalam air danau sampai
kedalaman 20 cm dengan mulut botol menghadap
ke atas. Arah mulut botol berlawanan dengar arah arus air. Jarak dari pinggir
danau adalah sejauh 3 meter.
d. Botol sampel yang telah diisi ditutup kembali, kemudian
dibungkus dengan kertas penutup lalu diikat kembali.
2. Uji
Perkiraan
a. Tangan
dan meja tempat kerja disterilkan dengan
menggunakan alkohol.
b. Penutup
botol sampel dibuka dan mulut botol sampel diplumbir.
c. Disiapkan
9 tabung media laktosa yang berisi tabung durham, dengan perbandingan 3:10 ml, 3:1 ml, dan 3:0,1 ml.
d. Pipet
ukur dan mulut tabung media laktosa diplumbir setiap memindahkan sampel air.
e. Dengan
menggunakan pipet ukur, sampel air dipindahkan ke dalam tabung media laktosa sesuai
dengan kadar perbandingan.
f. Masing-masing
tabung dihomogenkan agar sampel air dan kaldu laktosa bercampur rata,
diusahakan sampel air jangan sampai menyentuh kapas penyumbat.
g. Masing-masing
tabung diletakkan pada rak tabung dan kemudian dimasukkan ke dalam inkubator
dengan temperatur 35 oC selama 2 x 24 jam.
h. Setelah
2 x 24 jam, tabung dikeluarkan dari inkubator dan diamati, tabung durham yang
memiliki gelembung dinyatakan positif dan dilanjutkan dengan uji penegasan.
3. Uji
Penegasan
a. Tangan dan tempat kerja disterilkan dengan menggunakan
alkohol.
b. Sampel dikeluarkan dari inkubator.
c. Setiap sampel di dalam tabung durham diamati, tabung yang
tidak mengandung gelembung gas dipisahkan, sedangkan tabung yang mengandung
gelembung gas diambil untuk uji penegasan.
d. Disiapkan tabung yang berisi Brilliant
Green Lactose Bile Broth (BGLB).
e. Pembakar bunsen dinyalakan.
f. Disiapkan ose.
g. Sebelum digunakan, terlebih dahulu ose diplumbir. Jika ose
terlalu panas maka didinginkan sebelum dicelupkan kedalam tabung. Tujuannya
agar bakteri yang ada pada sampel tidak mati karena panas. Kemudian ose dicelupkan
kedalam sampel sebanyak 2 kali, lalu dicelupkan lagi ke tabung yang berisi
BGLB. Sebelum ose dicelupkan maka tabung BGLB diplumbir terlebih dahulu.
Begitupun sesudah dicelupkan, mulut tabung diplumbir kembali dan ditutup dengan
kapas. Selama memindahkan sampel, ose dan tabung BGLB tidak boleh jauh dari
pembakar bunsen.
h. Tabung yang berisi BGLB kemudian dihomogenkan.
i.
Setelah
semua tabung BGLB berisi sampel yang positif mengandung Coliform, selanjutnya diletakkan pada rak tabung dan dimasukkan ke
dalam inkubator dengan suhu 35oC
selama 2 x 24 jam.
j.
Setelah 2 x 24 jam, tabung dikeluarkan
dari inkubator dan diamati, tabung durham yang memiliki gelembung dinyatakan
positif dan dilanjutkan dengan perhitungan jumlah bakteri.
BAB
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di
Laboratorium Terpadu FKM Universitas Hasanuddin, maka diperoleh hasil pemeriksaan
bakteriologis pada air danau Universitas Hasanuddin sebagai berikut :
Tabel 1
Hasil Pemeriksaan Bakteriologis
pada Air Danau Universitas Hasanuddin Kota Makassar
Nama
Tabung
|
Uji
perkiraan
|
Uji
penegasan
|
Tabung
10 ml :
I
II
III
|
+
+
+
|
+
+
+
|
Tabung
1 ml :
I
II
III
|
-
-
-
|
-
-
-
|
Tabung
0,1 ml :
I
II
III
|
-
+
+
|
-
+
+
|
Sumber : Data Primer, 2013
Ket : + (positif
mengandung bakteri golongon coli)
- (negatif mengandung bakteri golongon
coli)
B.
Pembahasan
1.
Uji
Perkiraan
Pada uji perkiraan
ini diperoleh bahwa ada 5 tabung yang mengalami perubahan media (memiliki
gelembung). Gelembung gas yang terbentuk merupakan hasil dari peragian laktosa
yang dilakukan oleh bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa kelima tabung tersebut
positif mengandung bakteri Coliform.
Sampel pada percobaan
ini adalah air danau Universitas Hasanuddin. Diketahui bahwa danau merupakan
salah sumber air yang memiliki tingkat pencemaran yang tinggi. Dari hasil
pemeriksaan di dapatkan bahwa air danau Universitas Hasanuddin mengandung
bakteri Coliform. Keberadaan bakteri Coliform pada air danau Universitas
Hasanuddin menandakan bahwa air danau tersebut telah mengalami pencemaran
secara biologis. Hal ini didukung oleh letak danau yang dekat dengan kegiatan
pertanian (pemupukan), rumah sakit, saluran pembuangan dari perkantoran dan
gedung lainnya serta dekat dengan pemukiman padat penduduk.
2.
Uji
Penegasan
Setelah memastikan
bahwa pada 5 tabung sampel air danau Universitas Hasanuddin mengandung bakteri Coliform maka dilakukan lagi uji
penegasan untuk membuktikan ada tidaknya bakteri fecal coli yang terkandung di dalam air danau tersebut. Berdasarkan
hasil pemeriksaan didapatkan bahwa kelima-limanya terdapat gelembung pada
tabung durham, sehingga dapat dinyatakan bahwa air danau unhas positif
mengandung bakteri fecal coli.
Keberadaan bakteri fecal coli merupakan indikator adanya
pencemaran bakteri patogen. Hal ini sangat erat kaitannya dengan letak danau
yang berada di sekitar pemukiman padat penduduk serta saluran pembuangan limbah
dari rumah sakit maupun dari perkantoran.
Tercemarnya air
danau Universitas Hasanuddin juga ditandai dengan banyaknya tanaman eceng
gondong di sekitar danau sebagai bentuk bahwa danau tersebut memiliki air yang
tidak jernih (keruh) dengan unsur hara yang tinggi akibat tingginya tingkat
pencemaran limbah cair ataupun padat.
Air
danau tidak memiliki aliran atau diam dan tersimpan dalam waktu yang cukup
lama, sehingga mengandung sisa-sisa pembusukan dialam seperti pembusukan
akar-akar, rumput-rumput serta mengandung alga, fungi dan jasad-jasad renik
lainnya. Hal tersebut menandakan bahwa tingginya aktivitas dekomposisi bahan
organik yang dilakukan oleh bakteri pada danau.
3. Perhitungan Jumlah Bakteri
Hasil dari perhitungan jumlah bakteri dengan melihat tabel MPN / JPT
adalah adalah 64 MPN/100 ml maka terdapat nilai MPN 64/gram dalam setiap sampel
air. Artinya bahwa dalam sampel air tersebut diperkirakan setidaknya mengandung
64 Coliform pada setiap gramnya.
Makin kecil nilai MPN, maka kualitas air tersebut makin tinggi. Berdasarkan
Permenkes
No. 416/MENKES/PER/IX/1990 bahwa total Coliform yang diperbolehkan pada air bukan perpipaan adalah
maksimum 50 MPN/100 ml. Hal ini menunjukkan bahwa total Coliform yang terkandung pada air
danau Universitas Hasanuddin melampaui
ambang batas, sehingga tidak layak digunakan sesuai peruntukannya.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan bakteriologis pada air
danau Universitas Hasanuddin, diketahui bahwa:
1. Air
danau Universitas hasanuddin positif mengandung bakteri Coliform dan setelah dilakukan uji penegasan didapatkan hasil bahwa
pada air danau Universitas Hasanuddin mengandung bakteri fecal coli.
2.
Berdasarkan hasil perhitungan jumlah bakteri maka
didapatkan total Coliform yang
terkandung pada air danau Universitas Hasanuddin adalah 64 MPN/100 ml.
B.
Saran
1.
Dalam
melakukan percobaan, untuk mendapatkan hasil yang akurat maka dibutuhkan
ketelitian dan penguasaan materi oleh praktikan.
2.
Kepada mahasiswa, disarankan untuk
melakukan penelitian lebih lanjut terkait pemeriksaan bakteriologis pada air,
khususnya pada air danau yang sebagian masyarakat masih mengkonsumsi ikan yang
berasal dari danau.
3.
Kepada tim pengajar, sebelum praktikum
dimulai, disarankan untuk memberikan pengantar atau dasar teori tentang yang
akan dipraktikkan.
4.
Kepada
masyarakat, diharapkan tidak membuang limbah rumah tangga ke danau agar tidak
mencemari danau yang sebagian besar masih ikan di danau Universitas Hasanuddin
dikonsumsi oleh masyarakat.
Langganan:
Postingan (Atom)
